Sejak acara dibuka, atmosfer gotong royong sudah begitu kental terasa. Carik Kalurahan Tegalrejo, dalam sambutan pembukanya, menegaskan bahwa masalah stunting bukan hanya urusan bidan atau puskesmas, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga kalurahan.
Hal ini diperkuat oleh penuturan dari Panewu Anom Kapanewon Gedangsari. Beliau menekankan betapa krusialnya sinergi dari semua lini.
"Percepatan penurunan stunting tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita butuh perencanaan yang matang dan pelaksanaan program yang terintegrasi dari kapanewon hingga tingkat padukuhan," tegasnya di hadapan forum.
Mengupas Data, Menemukan Solusi
Masuk ke sesi pemaparan, suasana ruang sidang mendadak hening berwibawa saat Ahli Gizi Puskesmas Gedangsari 2 membeberkan grafik dan kondisi riil stunting di Tegalrejo. Lembar demi lembar data sasaran, faktor penyebab, hingga langkah konkret pencegahan dikupas tuntas. Dari sana, semua yang hadir tersadar bahwa pola asuh dan pemenuhan gizi adalah kunci yang harus terus diperkuat.
Tak kalah penting, Pendamping Desa yang hadir memandu dari sisi regulasi dan anggaran. Ia mengingatkan bahwa niat baik ini harus dikawal secara formal. Langkah konkretnya adalah dengan memastikan program percepatan penurunan stunting masuk dan mengakar kuat dalam dokumen perencanaan serta penganggaran kalurahan
Mendengar Suara dari Akar Rumput
Bagian paling hidup dari Rembuk Stunting ini terjadi saat sesi diskusi dan musyawarah dibuka. Di sinilah ruang demokrasi dan kepedulian benar-benar berdenyut. Para Dukuh, Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader Posyandu, hingga kader KB bergantian menyampaikan realita di lapangan.
Suasana kian menyentuh ketika perwakilan keluarga balita stunting turut berbicara, menyampaikan keluh kesah dan masukan terkait pelayanan kesehatan, pola asuh, serta pentingnya edukasi gizi yang lebih menyentuh langsung ke rumah-rumah warga. Dari obrolan hangat namun kritis ini, lahirlah satu kesadaran baru: koordinasi lintas sektor harus diperkuat, dan peran kader sebagai ujung tombak pendampingan keluarga berisiko wajib ditingkatkan.
Lima Kesepakatan untuk Masa Depan Tegalrejo
Setelah melalui proses diskusi yang panjang dan dinamis, Rembuk Stunting ini berhasil merumuskan 5 poin kesepakatan besar yang akan menjadi komitmen bersama:
- Sinergi Tanpa Batas: Meningkatkan koordinasi antara pemerintah kalurahan, Puskesmas, kader, dan Pendamping Desa.
- Optimalisasi Posyandu: Memaksimalkan pemantauan pertumbuhan balita serta gencar memberikan edukasi gizi bagi ibu hamil dan keluarga.
- Pengawalan Anggaran: Mengintegrasikan seluruh usulan kegiatan stunting ke dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran Kalurahan Tegalrejo.
- Pendampingan Berkala: Melakukan pemantauan dan pendampingan secara konsisten kepada keluarga balita stunting dan yang berisiko.
- Gerakan Masyarakat: Mendorong partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali untuk peduli terhadap stunting.
Saat matahari mulai bergeser turun, acara pun resmi ditutup. Seluruh peserta yang hadir, mulai dari Bamuskal hingga para kader, pulang membawa seberkas harapan baru. Rembuk Stunting Tegalrejo 2026 bukan sekadar sukses secara seremonial, tetapi telah berhasil melahirkan komitmen nyata—sebuah kerja bersama demi memastikan anak-anak Tegalrejo tumbuh sehat, cerdas, dan bebas stunting.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar